CERPEN "MISTERI LEMBAH BERDARAH"
“Tidak! Tidak! Pergi! Aaaahhh” dan dia menghilang. Tragedi ini terus memakan korban. Tak seorang pun mengetahui tempat terjadinya, dalang di balik itu semua, dan motif kejahatannya. Akan tetapi, itulah yang terjadi beberapa bulan ini, satu per satu orang di kotaku ini menghilang tanpa jejak sedikitpun, tanpa ada yang mengetahui. “Hey Dian! Ngelamun terus.”, kata seorang kawanku, Nia yang menjatuhkan lamunanku. Nia adalah sabahatku sejak kami masih balita. Entah mengapa dari dulu kami selalu berada di sekolah yang sama hingga kini kami pun berada di kampus dan jurusan yang sama pula. Pada hari itu saat kami berjalan sambil bercanda di lorong kampus, tiba-tiba “braakk….”. Aku menabrak pot bunga dan pecah. Lalu dengan segera pun kami membereskan pecahan yang berserakan itu. Belum selesai kami menyelesaikannya, tiba-tiba ada sesosok tangan melayang di pundakku. Aku menoleh ke belakang dan dalam hatiku berkata, “Astaga…tampannya”. Akan tetapi, belum sempat lamunan atas kekagumanku terhenti, aku terkena omelannya. Seketika rasa kagum itu ludes terbakar karena hati ini mendongkol. “Siapa sih dia? Belagu amat”, umpat dalam hati. Wajah Nia pun sepertinya tak kalah kecutnya menghadapi omelan pria itu. “Permisi pak tolong maafkan mereka. Mereka tidak sengaja. Anggap saja ini kesalahan mereka yang pertama dan terakhir. Mereka masih mahasiswa baru di sini”, suara itu tiba–tiba muncul di balik kami. Sepertinya aku berhutang budi padanya, karena sesaat setelah dia berkata demikian, pria yang menegur kami pun berlalu. Dia memperkenalkan dirinya bernama Dito, mahasiswa semester 8 dengan jurusan yang sama dengan kami. Ternyata pria yang memarahi kami habis–habisan tadi adalah seorang dosen muda di kampus kami, Pak Totok. Ketampanan beliau memang memikat banyak mahasiswi, tetapi kegarangannya membuat mereka menyayangkan hal tersebut. Semenjak kejadian itu, aku dan Nia semakin dekat dengan Mas Dito. Dia orang yang sangat ramah dan tak jarang pula kami belajar bersama dengannya.
Setelah beberapa minggu di kampus yang baru aku singgahi, ternyata ada satu mata kuliahku yang diajarkan oleh Pak Totok, karena menggantikan posisi dosenku yang sebelumnya. Terbayangkan sudah kengeriannya ketika diajar beliau. Saat memasuki kelas di hari pertama, beberapa mahasiswi masih belum mengetahui pengarai Pak Totok sebenarnya. Mereka masih terpana dengan ketampanan Pak Totok. Akan tetapi, anehnya kini beliau sudah tidak seperti yang ku kenal pertama bertemu. Beliau terlihat ramah dan sabar. Salah satu teman sekelasku yang begitu tergila–gila dengan beliau adalah Rani. Rani pasti mengetahui segala sesuatu tentang Pak Totok. Aku juga pernah mengetahui Rani memasuki mata kuliah beliau meskipun itu bukan jadwalnya, tetapi ya sudahlah aku tidak perlu mencampuri kehidupannya Rani terlalu dalam.
Akhir–akhir ini aku mulai jarang melihat mas Dito di kampus. Dia juga tidak pernah mengajak aku dan Nia belajar bersama sudah dua minggu ini. Kami pun khawatir dengan keadaannya. Kami mencoba menghubungi ponselnya pun tidak aktif. Beberapa hari sebelum mas Dito menghilang, aku mendapat kabar dari kawan–kawan kampus kalau mas Dito sempat beradu mulut hebat dengan Pak Totok. Tidak ada yang tahu pasti kejadian itu, karena mereka hanya melihatnya dari kejauhan. Aku mulai bergumam dalam diriku sendiri, “Apakah itu karena masalah tugas akhir mas Dito? Kan mas Dito sekarang sudah semester 8 dan yang aku ketahui Pak Totok itu dosen pembimbingnya.” Akhirnya pada hari Minggu aku dan Nia untuk pertama kalinya mencoba berkunjung ke rumahnya mas Dito. Awalnya aku dan Nia tidak mengetahui rumah mas Dito. Akhirnya aku bertanya kepada teman seangkatannya. Sesampai di sana ternyata rumah mas Dito sangat sederhana. Ketika kami mengetuk pagar rumahnya yang tidak terlalu tinggi, munculah seorang pria paruh baya yang mempersilahkan kami masuk, beliau adalah ayah Mas Dito, yang bernama Pak Doni. Mas Dito ternyata sedang sakit. Pak Doni sudah memeriksakannya, tetapi tak kunjung sembuh. Lalu Pak Doni mempersilahkan kami masuk ke kamar mas Dito. Tepat di atas tempat tidur mas Dito terpampang foto seorang perempuan cantik yang berukuran besar. “Itu siapa ya pak?”, tanyaku tiba–tiba. Ternyata beliau adalah ibunda mas Dito. Ibunya meninggal dunia saat mas Dito masih berusia 10 tahun akibat kanker otak. Mas Dito selama ini tidak pernah menceritakan kehidupannya yang ternyata menyedihkan. Aku melihat di sana mas Dito tergolek lemah dan berkata sangat lirih untuk menyambutku dan Nia, ketika kami memasuki kamarnya. Sebagai layaknya seorang sahabat, kami bertiga bercanda bersama meskipun tidak seheboh seperti biasanya.Setelah seminggu kemudian, mas Dito akhirnya pulih kembali. Kami bertiga sering bersama-sama lagi. Hanya saja saat ini mas Dito sering terburu-buru saat kami sedang bercanda menikmati waktu bersama. Aku dan Nia memaklumi karena mungkin memang mas Dito mulai sibuk dengan tugas akhirnya. Lalu pada suatu malam saat kami belajar bersama, aku sontak menghamburkan konsentrasi mereka saat aku membaca dengan keras headline news di internet, “Teka–Teki Hilangnya Warga Kota Angola Ditemukan dalam Kondisi Mengenaskan”. Tercatat terdapat 50 laporan kehilangan warga dalam 6 bulan terakhir ini dan 20 di antaranya telah ditemukan dalam keadaan termutilasi dan semua korban tidak ditemukan kepalanya. Penemuan jasad para korban pertama kali diketahui oleh seorang sopir truk yang beristirahat di kawasan lembah Langara. Langara merupakan daerah perhutanan yang menghubungkan kota Angola dan kota Toreo. Di Langara tidak ada pemukiman warga satupun, jalannya berkelok-kelok, dan bertebing yang disertai aliran sungai kecil di bagian bawahnya. Meskipun Langara merupakan jalur alternatif untuk menuju pusat kota Toreo, tidak banyak warga yang berani melewati jalur tersebut karena sangat sepi dan tidak ada penerangan jalan. Teka–teki hilangnya warga Angola mulai terkuak meskipun belum diketahui motif dan pelakunya. Berita tersebut benar-benar membuat suasana semakin mencekam dan konsentrasi belajar kami mulai terganggu. Akhirnya tidak sampai pukul 21.00 kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Saat itu seperti biasa kami belajar kelompok di rumah Nia, jadi saat itu aku pulang bersama mas Dito menggunakan mobilku.
sumber : http://niychemisstry.blogspot.co.id/2015/05/cerpen-misteri-lembah-berdara.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar