Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Rabu, 16 Desember 2015

CERPEN "MISTERI LEMBAH BERDARAH"


 “Tidak! Tidak! Pergi! Aaaahhh” dan dia menghilang. Tragedi ini terus memakan korban. Tak seorang pun mengetahui tempat terjadinya, dalang di balik itu semua, dan motif kejahatannya. Akan tetapi, itulah yang terjadi beberapa bulan ini, satu per satu orang di kotaku ini menghilang tanpa jejak sedikitpun, tanpa ada yang mengetahui. “Hey Dian! Ngelamun terus.”, kata seorang kawanku, Nia yang menjatuhkan lamunanku. Nia adalah sabahatku sejak kami masih balita. Entah mengapa dari dulu kami selalu berada di sekolah yang sama hingga kini kami pun berada di kampus dan jurusan yang sama pula.  Pada hari itu saat kami berjalan sambil bercanda di lorong kampus, tiba-tiba “braakk….”. Aku menabrak pot bunga dan pecah. Lalu dengan segera pun kami membereskan pecahan yang berserakan itu. Belum selesai kami menyelesaikannya, tiba-tiba ada sesosok tangan melayang di pundakku. Aku menoleh ke belakang dan dalam hatiku berkata, “Astaga…tampannya”. Akan tetapi, belum sempat lamunan atas kekagumanku terhenti, aku terkena omelannya. Seketika rasa kagum itu ludes terbakar karena hati ini mendongkol. “Siapa sih dia? Belagu amat”, umpat dalam hati. Wajah Nia pun sepertinya tak kalah kecutnya menghadapi omelan pria itu.  “Permisi pak tolong maafkan mereka. Mereka tidak sengaja. Anggap saja ini kesalahan mereka yang pertama dan terakhir. Mereka masih mahasiswa baru di sini”, suara itu tiba–tiba muncul di balik kami. Sepertinya aku berhutang budi padanya, karena sesaat setelah dia berkata demikian, pria yang menegur kami pun berlalu. Dia memperkenalkan dirinya bernama Dito, mahasiswa semester 8 dengan jurusan yang sama dengan kami. Ternyata pria yang memarahi kami habis–habisan tadi adalah seorang dosen muda di kampus kami, Pak Totok. Ketampanan beliau memang memikat banyak mahasiswi, tetapi kegarangannya membuat mereka menyayangkan hal tersebut. Semenjak kejadian itu, aku dan Nia semakin dekat dengan Mas Dito. Dia orang yang sangat ramah dan tak jarang pula kami belajar bersama dengannya.

  Setelah beberapa minggu di kampus yang baru aku singgahi, ternyata ada satu mata kuliahku yang diajarkan oleh Pak Totok, karena menggantikan posisi dosenku yang sebelumnya. Terbayangkan sudah kengeriannya ketika diajar beliau. Saat memasuki kelas di hari pertama, beberapa mahasiswi masih belum mengetahui pengarai Pak Totok sebenarnya. Mereka masih terpana dengan ketampanan Pak Totok. Akan tetapi, anehnya kini beliau sudah tidak seperti yang ku kenal pertama bertemu. Beliau terlihat ramah dan sabar. Salah satu teman sekelasku yang begitu tergila–gila dengan beliau adalah Rani. Rani pasti mengetahui segala sesuatu tentang Pak Totok. Aku juga pernah mengetahui Rani memasuki mata kuliah beliau meskipun itu bukan jadwalnya, tetapi ya sudahlah aku tidak perlu mencampuri kehidupannya Rani terlalu dalam.

  Akhir–akhir ini aku mulai jarang melihat mas Dito di kampus. Dia juga tidak pernah mengajak aku dan Nia belajar bersama sudah dua minggu ini. Kami pun khawatir dengan keadaannya. Kami mencoba menghubungi ponselnya pun tidak aktif. Beberapa hari sebelum mas Dito menghilang, aku mendapat kabar dari kawan–kawan kampus kalau mas Dito sempat beradu mulut hebat dengan Pak Totok. Tidak ada yang tahu pasti kejadian itu, karena mereka hanya melihatnya dari kejauhan. Aku mulai bergumam dalam diriku sendiri, “Apakah itu karena masalah tugas akhir mas Dito? Kan mas Dito sekarang sudah semester 8 dan yang aku ketahui Pak Totok itu dosen pembimbingnya.” Akhirnya pada hari Minggu aku dan Nia untuk pertama kalinya mencoba berkunjung ke rumahnya mas Dito. Awalnya aku dan Nia tidak mengetahui rumah mas Dito. Akhirnya aku bertanya kepada teman seangkatannya.  Sesampai di sana ternyata rumah mas Dito sangat sederhana. Ketika kami mengetuk pagar rumahnya yang tidak terlalu tinggi, munculah seorang pria paruh baya yang mempersilahkan kami masuk, beliau adalah ayah Mas Dito, yang bernama Pak Doni. Mas Dito ternyata sedang sakit. Pak Doni sudah memeriksakannya, tetapi tak kunjung sembuh. Lalu Pak Doni mempersilahkan kami masuk ke kamar mas Dito. Tepat di atas tempat tidur mas Dito terpampang foto seorang perempuan cantik yang berukuran besar. “Itu siapa ya pak?”, tanyaku tiba–tiba. Ternyata beliau adalah ibunda mas Dito. Ibunya meninggal dunia saat mas Dito masih berusia 10 tahun akibat kanker otak. Mas Dito selama ini tidak pernah menceritakan kehidupannya yang ternyata menyedihkan. Aku melihat di sana mas Dito tergolek lemah dan berkata sangat lirih untuk menyambutku dan Nia, ketika kami memasuki kamarnya. Sebagai layaknya seorang sahabat, kami bertiga bercanda bersama meskipun tidak seheboh seperti biasanya.
 Setelah seminggu kemudian, mas Dito akhirnya pulih kembali. Kami bertiga sering bersama-sama lagi. Hanya saja saat ini mas Dito sering terburu-buru saat kami sedang bercanda menikmati waktu bersama. Aku dan Nia memaklumi karena mungkin memang mas Dito mulai sibuk dengan tugas akhirnya. Lalu pada suatu malam saat kami belajar bersama, aku sontak menghamburkan konsentrasi mereka saat aku membaca dengan keras headline news di internet, “Teka–Teki Hilangnya Warga Kota Angola Ditemukan dalam Kondisi Mengenaskan”. Tercatat terdapat 50 laporan kehilangan warga dalam 6 bulan terakhir ini dan 20 di antaranya telah ditemukan dalam keadaan termutilasi dan semua korban tidak ditemukan kepalanya. Penemuan jasad para korban pertama kali diketahui oleh seorang sopir truk yang beristirahat di kawasan lembah Langara. Langara merupakan daerah perhutanan yang menghubungkan kota Angola dan kota Toreo. Di Langara tidak ada pemukiman warga satupun, jalannya berkelok-kelok, dan bertebing yang disertai aliran sungai kecil di bagian bawahnya. Meskipun Langara merupakan jalur alternatif untuk menuju pusat kota Toreo, tidak banyak warga yang berani melewati jalur tersebut karena sangat sepi dan tidak ada penerangan jalan. Teka–teki hilangnya warga Angola mulai terkuak meskipun belum diketahui motif dan pelakunya. Berita tersebut benar-benar membuat suasana semakin mencekam dan konsentrasi belajar kami mulai terganggu. Akhirnya tidak sampai pukul 21.00 kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Saat itu seperti biasa kami belajar kelompok di rumah Nia, jadi saat itu aku pulang bersama mas Dito menggunakan mobilku.  Saat di perjalanan tiba-tiba di sebuah diskotik yang terletak di pinggir jalan raya, aku melihat pak Totok sedang merangkul wanita. Aku mencoba meyakinkan pengelihatanku dengan menanyakan kepada mas Dito. Ternyata memang benar itu adalah Pak Totok, dosen kami. Bagaimana mungkin dosen yang kami kenal berwibawa ternyata suka bermain wanita di tempat seperti itu? Entahlah aku melupakannya dan melanjutkan perjalananku pulang sebelum semakin larut.Pada suatu hari ketika aku melihat berita di televisi, lagi–lagi berita yang disiarkan adalah berita kehilangan orang. Kali ini korbannya adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang bekerja sebagai kupu–kupu malam di Kota Angola. Lalu sesaat muncul foto wanita tersebut di layar televisi. Betapa terkejutnya aku. Wanita itu adalah wanita yang dirangkul oleh Pak Totok saat aku bertemu di sebuah diskotik pada malam sebelumnya.  Lalu tanpa berpikir panjang dengan segera aku meluncur ke Langara seorang diri. Entah keberanian apa yang membawaku sejauh ini. Aku tidak memberi tahu Nia maupun mas Dito tentang kenekatanku ini. Aku ingin menyelidiki lebih lanjut di Langara. Barangkali ada bukti–bukti yang terlewatkan oleh polisi. Setelah menempuh 2 jam perjalanan, aku memasuki kawasan lembah Langara. Tempat ditemukan beberapa jasad korban masih terdapat garis polisi. Aku berhenti di dekat jembatan pinggir jalan. Aku melihat keadaan sekitar benar-benar sunyi, hanya suara-suara serangga hutan. Tiba-tiba aku begitu terkejut saat ku melangkah mundur, berbunyi seperti boneka mainan anak kecil. Ternyata benar aku menginjak sesuatu. Itu adalah gantungan kunci patrick yang terbuat dari karet. Aku mengambil gantungan kunci tersebut. Di sisi belakang gantungan kunci tersebut terdapat bercak darah yang mengering. Sepertinya ini adalah milik salah satu korban itu. Lalu dengan segera kumasukkan gantungan kunci tersebut dalam kantong plastik dan bergegas pulang, karena entah mengapa bulu kudukku mulai merinding.  Pada esok harinya, di kelas aku melihat Rani sibuk membungkus kado. “Untuk siapa sih Ran? Serius amat”, tanyaku. “Ahh…siapa lagi? Pujaan hatiku hari ini berulang tahun”, jawab Rani. Tanpa perlu menanyakan lagi, aku pun sudah mengetahui kalau kado itu akan diberikan kepada Pak Totok. Sesaat setelah itu, pak Totok pun masuk ke dalam kelas dan tanpa malu Rani pun maju ke depan kelas untuk memberi kado itu. Sontak seluruh kelas menjadi gaduh menyoraki mereka. Semenjak saat itu, aku sering melihat mereka berdua pergi bersama ke mall. Rasa simpatikku ke Pak Totok memang sudah luntur sejak tahun pertama kena omelan beliau. Akan tetapi, bagaimanapun aku masih menghormatinya sebagai dosenku di kampus.  Pada suatu ketika aku secara tidak sengaja menabrak Pak Totok saat berjalan. Tumpukan kertas yang dibawa beliau jatuh berantakan. Lalu beliau menatapku tajam dan dengan segera aku membantu memungut merapikannya. Tiba-tiba mataku terpusat pada kantong celana pak Totok. Di dalam sakunya terdapat gantungan kunci Patrickyang terbuat dari karet, sama persis dengan yang aku temukan beberapa hari silam. Perasaan curigaku semakin mendalam kepada pak Totok. Secara spontan, aku menanyakan tentang gantungan kunci itu. Beliau menjawab ketus, “Memangnya ada apa, Dian? Tiba-tiba kok bertanya seperti itu?”, tanya pak Totok kepadaku dengan sorotan tajamnya yang khas. Aku hanya menggelengkan kepala dan berlari kecil menjauhi beliau.  Dugaanku kini semakin kuat, tetapi tidak cukup kuat jika aku laporkan kepada polisi. Aku terus memendam semua ini. Aku tidak menceritakan sedikitpun kepada Nia maupun mas Dito, karena aku takut jika hal tersebut justru mencelakakan mereka. Pada malam harinya aku meluncur menuju diskotik tempat aku bertemu Pak Totok sebelumnya. Sesuai dugaanku, aku menanti di dalam mobil melihat dari kejauhan pak Totok tampak terburu–buru sambil menggandeng tangan seorang wanita. Kali ini wanita tersebut sangatlah tidak asing bagiku. Ya aku yakin, itu Rani. Aku tidak salah lagi. Dengan berhati–hati aku pun mengikuti mobil pak Totok hingga sampailah menuju lembah Langara. Lalu Pak Totok bersama Rani turun dari mobil dan berjalan menuruni bukit melewati semak–semak belukar. Dengan penuh hati–hati aku pun mengikuti mereka. Lalu sampailah aku di tengah hutan dan terdapat sebuah rumah kecil yang tampak tua, lusuh, dan lapuk di sana. Mereka berdua memasuki rumah itu dan keyakinanku semakin kuat bahwa Pak Totok adalah pelakunya. Aku pun ketakutan dan berlari mundur karena aku ingin segera menghubungi polisi. Saat akan sampai di pinggir jalan, aku dikagetkan kehadiran Mas Dito yang berlumuran darah di tangannya. “Pak Totok mencoba membunuhku”, jelasnya singkat bahkan sebelum aku bertanya. Tanpa bercakap lebih panjang, kami pun masuk ke dalam mobil. “Dimana Nia?”, tanyaku penuh khawatir. Tanpa berkata–kata, mas Dito semakin kencang melajukan mobilku hingga menabrak pohon besar dan aku pun pingsan.  Saat aku terbangun, aku berada di ruang yang gelap dengan keadaan tubuhku terikat dan mulutku ditutup oleh lakban. Lalu muncul cahaya lilin mendekat dan tampak samar–samar aku melihat wajah mas Dito. Aku berteriak semampuku untuk meminta tolong padanya. Akan tetapi, ternyata dia justru mulai menggoreskan pisau operasi di kulit kepalaku dengan seperangkat alat operasi yang jaraknya tidak jauh dariku. Aku meronta kesakitan bukan main. Semakin dalam dan semakin lebar guratan pisau itu melukai kepalaku. Aku mulai tak tahan lagi menahan sakit dan kesadaranku pun menghilang lagi.Saat aku membuka mataku untuk kedua kalinya, ternyata aku kini berada di rumah sakit dengan perban yang cukup tebal di bagian kepalaku dan infus berisi darah menancap di tangan kiriku. Tiba–tiba, Pak Totok dan Rani pun memasuki ruangan dan mendekatiku. “Dian… Kami turut berduka cita. Maaf, kami telah mencoba menyelamatkannya, tetapi kami terlambat”, terang Rani singkat dan dia mulai menghapus air mata yang menetes di pipinya.  Lalu Pak Totok mulai bercerita bahwa dalang di balik teka–teki pembunuhan di Angola adalah mas Dito. Mas Dito sangat terpukul atas kematian ibunya akibat kanker otak, sehingga membuatnya terobsesi meneliti organ otak. Awalnya mas Dito melakukan risetnya menggunakan otak hewan, tetapi saat mas Dito juga divonis terkena kanker otak stadium lanjut, dia lebih mendalami dan mencari cara agar penyakitnya dapat terobati dengan menggunakan otak manusia yang sehat. Sejak saat itu satu per satu warga Angola yang menghilanng hingga ditemukan dalam keadaan termutilasi tanpa kepala pun mulai terjadi. Salah satu korbannya adalah kekasih Pak Totok. Saat penemuan beberapa potongan jasad korban periode lalu, Pak Totok mengikuti investigasi polisi di TKP. Beliau menemukan potongan tangan kekasihnya yang masih terpasang cincin tunangan mereka, jadi gantungan kunci patrick yang aku temukan sebelumnya merupakan gantungan kunci kekasih Pak Totok. Oleh karena itu, bentuknya sangat mirip. Akibat tragedi itu, Pak Totok sangat terpukul dan sering pergi ke diskotik bermain dengan para wanita malam di sana. Mengetahui hal tersebut, mas Dito memanfaatkan momen tersebut agar terkesan Pak Totok adalah pelakunya. Saat aku dan mas Dito bertemu pak Totok di sebuah diskotik sebelumnya, ternyata mas Dito telah mengincar wanita malam yang bersama beliau tersebut dan menghabisinya. Lalu saat Pak Totok beradu mulut hebat dengan mas Dito sebelumnya, hal tersebut disebabkan oleh pengajuan judul skripsi mas Dito yang tidak masuk akal. Diri situlah pak Totok mulai curiga. Saat mengenal Rani, Pak Totok yakin Rani adalah orang yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, mereka menyusun strategi untuk dapat membongkar kejahatan mas Dito. Saat malam Rani bersama Pak Totok bersama ke diskotik, sebenarnya mereka sudah mengetahui dan mengkhawatirkan Nia, karena pada hari itu mas Dito mengajak Nia berkencan tanpa sepengetahuanku. Ternyata mas Dito telah mengambil otak Nia dalam keadaan segar di rumah tua Lembah Langara. Pak Totok dan Rani segera meluncur menyelamatkan Nia dengan menghubungi polisi sebelumnya tanpa sepengetahuan mas Dito, tetapi sayangnya semua telah terlambat. Pada saat itu, perasaan curigaku pada Pak Totok telah mendominasi terlebih dahulu ketika mereka mulai memasuki rumah itu. Saat aku berlari ketakutan, ternyata mas Dito mengetahui keberadaanku. Oleh karena itu, mas Dito juga mencoba membunuhku di rumahnya karena khawatir kejahatannya akan terbongkar. Untungnya saat itu tim kepolisian datang tepat waktu untuk menyelamatkanku. Mereka akhirnya menembak mati mas Dito dan ayahnya, yang juga turut membantu kekejian anaknya. Setelah aku mengetahui itu semua, air mataku tak terbendung. Aku telah kehilangan sahabat sejatiku selama–lamanya dan selama ini aku telah mencurigai orang yang salah.
sumber : http://niychemisstry.blogspot.co.id/2015/05/cerpen-misteri-lembah-berdara.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar