Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Jumat, 22 Januari 2016

Drama Politik Anjing Dan Kucing


Cerpen Karangan: 
Di sebuah kota kecil hiduplah si Anjing dan si Kucing yang bersahabat dan saling menjaga. Mereka memiliki impian besar untuk merubah negaranya yang dilanda kerakusan dan ketamakan.
“Suatu saat aku ingin menjadi orang besar yang bisa mengelola negara ini.” Kata si Anjing sambil menatap tajam ke langit dengan ekspresi yang serius.
Si Kucing berjalan pelan menuju ke tempat si Anjing. “Aku juga mempunyai mimpi yang sama.” Kucing membalas dengan suara yang lembut. Kucing pun menepuk pundak Anjing.
“Mari kita bersama-sama untuk menjadi yang terbaik untuk merubah negara kita.” kata kucing dengan mantap.
Untuk mencapai impian mereka si Anjing dan si Kucing belajar dengan giat. Mereka pun mengambil jurusan yang sama di bidang politik. Si Anjing yang saat itu memiliki harta yang berlimpah, memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri. Si kucing tidak ingin dikalahkan oleh semangat sahabatnya. Dia memilih memulai dengan bergabung dengan partai politik penguasa untuk menjadi kadernya. Namun si kucing harus melalui jalan politik yang berliku dengan tidak banyaknya dukungan baginya menuju gedung parlemen.
Si Anjing yang telah menyelesaikan pendidikannya memilih untuk kembali dan mendirikan sebuah partai politiknya sendiri. Karena popularitas dan relasinya yang banyak selama kuliah. Si anjing dengan mudahnya meraup dukungan. Si kucing yang tidak mau tertinggal dengan langkah sahabatnya, mulai membangun kerajaan politiknya sendiri. Kemampuan diplomasi dan perundingan yang si kucing pelajarilah yang saat ini membuat dia dengan mudah mendapatkan dukungan.
Ketika tiba ajang pemilihan pemimpin negeri. Partai Si Anjing dan si Kucing berusaha untuk mendulang pendukung dari pelosok negeri. Mereka saling bersaing untuk menjadi pemenang. Situasi ini membuat si Anjing dan si Kucing jarang berkomunikasi. Berita negatif di media menggambarkan sikap si Anjing dan si Kucing saling mencurigai.
Kehidupan persahabatan mereka mulai memudar seiring persaingan di antara mereka untuk menjadi penguasa. Hasil pemilihan mengakui bahwa si Kucing yang akan menjadi pemimpin negeri. Si Anjing tidak terima dan merasa si Kucing telah berbuat curang. Keserakahan untuk menjadi penguasa telah membutakan si Anjing dan membuatnya dendam. Sehingga berjanji akan memburu si Kucing sampai kiamat tiba.
SUMBER : http://cerpenmu.com/cerpen-fabel-hewan/drama-politik-anjing-dan-kucing.html

Rabu, 16 Desember 2015



MISTERI

Sejak kejadian itu, tidak ada seorangpun yang mau masuk ke rumah yang sudah 5 minggu  kutinggalkan itu. “Dari depan saja sudah terlihat menakutkan, apalagi dalamnya” ujar setiap orang yang lewat di depan rumah itu. Dulu memang pernah terjadi suatu kejadian aneh saat aku dan almarhum kuluargaku tinggal di rumah itu.

“kakaaaak…!!!
Lihat ini….” Teriak adikku yang terlihat sangat senang saat membuka pintu depan rumahku. “Duh ada apa sih kok teriak-teriak” ujar ibuku yang sedang mengepel lantai. “bu lihat nih, aku nemuin boneka ini di depan pintu. Lihat deh bu, bonekanya lucuuuuu banget” kata adikku sambil mengambil boneka lucu yang ada di depan pintu. Ibuku langsung berhenti mengepel lantai dan berjalan mendekati adikku. “lho boneka ini punya siapa?” Tanya ibuku sambil membelai rambut boneka itu, “gak tahu ma, soalnya teman-temanku nggak ada yang punya boneka seperti ini” jawab adikku “ma, ehmmm…. Bonekanya buat aku aja ya” lanjut adikku. “yaudah deh gak apa-apa, daripada bonekanya dibuang” kata ibuku.

“Yuhuuuuu……..!!!!!!!” teriak adikku sambil berlari menaikki tangga menuju kamarku. “kakak, lihat deh aku punya boneka baru nih” pamer adikku “wah bonekanya lucu deh!!” pujiku “kak, kita main yuk!” ajak adikku, “kamu nggak lihat yah, kakakkan lagi belajar buat ulangan besok” bentakku “yaudah aku main sendiri aja” ujar adikku sambil menutup pintu kamarku. Aku tidak memerhatikan adikku dan melanjutkan belajarku. Setelah 3 jam aku belajar di kamar, aku turun dari tangga menuju dapur. Aku melihat boneka berbaju hijau itu duduk di atas meja makan, dan aku juga melihat adikku sedang mencari sesuatu di dalam kulkas. “lho dik, kamu lagi cari apa?” tanyaku, “itu kak, aku lagi cari roti sama selai nanas. Kakak liat nggak?” kata adikku, “bukannya udah habis dari kemarin lusa ya?” jawabku pada adikku itu. Setelah mendengar jawaban tadi, adikku langsung mengambil bonekanya dan berlari menuju kamarnya. Perutku sudah berbunyi, aku segera mengambil makanan untuk makan siangku.

 Keesokkan harinya aku beraktivitas seperti biasa. Tapi ada yang aneh  saat sarapan aku tidak melihat adikku di meja makan, padahal biasanya ia sangat semangat saat sarapan. “’ma, Shasa mana?” Tanyaku pada ibuku yang sedang menaruh makanan di meja makan “ya nggak tahu donk, Sis” jawab ibuku. Aku langsung berjalan kearah kamar adikku dan mengetuk pintu kamarnya. Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar, tanpa pikir panjang aku langsung membuka pintu kamar itu. “haaaaaaaaaaaaaah!!!!!! Mamaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!! Papaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya. Mendengar teriakanku yang dahsyat tadi, ayah dan ibuku langsung berlari menuju kearahku. Aku tetap berdiri di depan pintu kamar adikku dan tidak berani masuk ke dalam. “Astaghfirrullah….. Shasa…..!!!” teriak ibuku sambil berlari menghampiri adikku yang sudah tak berdaya itu. Dan ayahku juga langsung menghampiri adikku dan menggendongnya. Aku sangat kaget saat aku membuka pintu kamar adikku itu, ternyata di lantai kamar itu penuh dengan darah adikku yang berceceran dimana-mana.

“Siska!!! Apa yang terjadi sama Shasa?” bentak ayahku, “aku tidak tau pa, tadi waktu aku membuka pintu kamar Shasa, tiba-tiba dia udah kayak gini” jawabku dengan cemas. Aku terpaksa tidak ikut ulangan karena aku harus mengikuti proses pemakaman adikku yang malang. Ayahku menaruh adikku di ruang tengah dan pergi untuk memberi tahu ketua RT tentang kejadian ini. Tiba-tiba tetangga-tetanggaku datang ke rumahku, mereka sangat terkejut saat melihat kondisi adikku. Semua tetangga dan keluargaku datang kerumahku dan mempersiapkan pemakaman adikku, aku mengganti pakaianku dan membersihkan kamar adikku yang penuh dengan darah itu.

Setelah adikku dimakamkan, aku dan orang tuaku pulang dengan penuh duka cita. Sesampainya di rumah, ibuku langsung masuk ke kamar adikku dan mengambil boneka yang kemarin ditemukan adikku didepan pintu rumah. Ibuku menaruh boneka itu di kamarnya untuk mengenang adikku. Matahari sudah terbenam, dan acara tahlilan sudah dimulai. Dengan wajah ikhlas kami sekeluarga mendo’akan adikku yang sudah tiada itu. Tidak terasa acara tahlilan sudah selesai. Aku membantu ibuku membersihkan ruang tamu yang sudah dipakai tempat tahlilan tadi. Setelah selesai, aku langsung masuk ke kamarku.

Tapi aku masih heran dengan adikku, “tadi, Shasa kok bisa kayak gitu yah, siapa sih yang mbunuh dia?” Tanyaku penasaran. Malam itu aku terbangun dari tidurku, aku merasa sangat haus dan akupun berjalan ke dapur untuk mengambil minuman. Di dapur aku melihat ibuku sedang mencari sesuatu di kulkas. “mama lagi nyari apa?” tanyaku kepada mamaku “eh Siska, mama lagi nyari roti sama selai nanas, kira-kira masih ada nggak ya?” jawab ibuku, aku sangat kaget mendengar jawaban dari ibuku itu, jawabannya sama persis dengan jawaban adikku kemarin “roti sama selainya udah habis ma” kataku. Aku langsung mengambil air dan meminumnya. Saat aku hendak kembali ke kamar, aku melihat ayahku sedang berjalan ke arah dapur sambil menggendong boneka adikku yang ditemukannya kemarin

Aku mengintip di pintu dapur, dan aku melihat ayah dan ibuku sedang berdebat, entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka terlihat sangat serius. Boneka yang digendong ayahku tadi kini berpindah ke pelukkan ibuku “maaf yah sayang, roti selai nanasnya nggak ada” ujar ibuku sambil memeluk dan membelai boneka itu. Kemudian ibuku meletakkan boneka itu di atas meja makan, tiba-tiba pisau-pisau di meja makan itu bergerak sendiri. Wajah boneka itu berubah dari wajah yang imut menjadi berwajah menakutkan, dan pisau-pisau tadi terlempar dengan sendirinya ke arah ayah dan ibuku. Boneka itu langsung menoleh ke arahku, aku sangat ketakutan. aku tidak peduli malam ataupun siang, Aku langsung berlari ke rumah pamanku yang letaknya tidak jauh dari rumahku.

Sesampainya di rumah paman aku langsung mengetuk pintu rumah itu,  tak lama kemudian paman membuka pintu “ayo pamaaan….!!! Kita harus selamatkan mama sama papa…” omelku pada paman sambil menarik tangan pamanku itu. “Siska ada apa kok malam-malam begini kamu ke rumah paman” kata pamanku “gawaaaaat mama sama papa di bunuh” jelasku “haaah!!! Di bunuh” teriak pamanku “makanya sekarang kita harus selamatkan mereka”. Akhirnya aku dan paman memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke pak RT. Aku, Paman, Pak RT, dan Pak Satpam pergi ke rumahku untuk melihat keadaan mama dan papaku. Ternyata saat kami datang, mama dan papaku sudah tergeletak tak bernyawa. “kamu yang sabar ya, Sis” ujar Pak RT.

Keesokkan harinya mama dan papaku di kuburkan di sebelah makam adikku. “mulai sekarang kamu tinggal sama paman aja yah” tawar pamanku, aku hanya mengangguk dan sampai sekarang aku tinggal di rumah pamanku. Semua orang penasaran dengan kejadian ini tapi ketika aku menceritakannya tidak semua orang percaya, termasuk pamanku sendiri. Padahal sudah jelas kalau yang membunuh keluargaku itu adalah boneka misterius yang sampai sekarang masih ada di rumahku yang dulu.

Sumber : http://www-ainun.blogspot.co.id/2013/09/cerpen-misteri.html

CERPEN "MISTERI LEMBAH BERDARAH"


 “Tidak! Tidak! Pergi! Aaaahhh” dan dia menghilang. Tragedi ini terus memakan korban. Tak seorang pun mengetahui tempat terjadinya, dalang di balik itu semua, dan motif kejahatannya. Akan tetapi, itulah yang terjadi beberapa bulan ini, satu per satu orang di kotaku ini menghilang tanpa jejak sedikitpun, tanpa ada yang mengetahui. “Hey Dian! Ngelamun terus.”, kata seorang kawanku, Nia yang menjatuhkan lamunanku. Nia adalah sabahatku sejak kami masih balita. Entah mengapa dari dulu kami selalu berada di sekolah yang sama hingga kini kami pun berada di kampus dan jurusan yang sama pula.  Pada hari itu saat kami berjalan sambil bercanda di lorong kampus, tiba-tiba “braakk….”. Aku menabrak pot bunga dan pecah. Lalu dengan segera pun kami membereskan pecahan yang berserakan itu. Belum selesai kami menyelesaikannya, tiba-tiba ada sesosok tangan melayang di pundakku. Aku menoleh ke belakang dan dalam hatiku berkata, “Astaga…tampannya”. Akan tetapi, belum sempat lamunan atas kekagumanku terhenti, aku terkena omelannya. Seketika rasa kagum itu ludes terbakar karena hati ini mendongkol. “Siapa sih dia? Belagu amat”, umpat dalam hati. Wajah Nia pun sepertinya tak kalah kecutnya menghadapi omelan pria itu.  “Permisi pak tolong maafkan mereka. Mereka tidak sengaja. Anggap saja ini kesalahan mereka yang pertama dan terakhir. Mereka masih mahasiswa baru di sini”, suara itu tiba–tiba muncul di balik kami. Sepertinya aku berhutang budi padanya, karena sesaat setelah dia berkata demikian, pria yang menegur kami pun berlalu. Dia memperkenalkan dirinya bernama Dito, mahasiswa semester 8 dengan jurusan yang sama dengan kami. Ternyata pria yang memarahi kami habis–habisan tadi adalah seorang dosen muda di kampus kami, Pak Totok. Ketampanan beliau memang memikat banyak mahasiswi, tetapi kegarangannya membuat mereka menyayangkan hal tersebut. Semenjak kejadian itu, aku dan Nia semakin dekat dengan Mas Dito. Dia orang yang sangat ramah dan tak jarang pula kami belajar bersama dengannya.

  Setelah beberapa minggu di kampus yang baru aku singgahi, ternyata ada satu mata kuliahku yang diajarkan oleh Pak Totok, karena menggantikan posisi dosenku yang sebelumnya. Terbayangkan sudah kengeriannya ketika diajar beliau. Saat memasuki kelas di hari pertama, beberapa mahasiswi masih belum mengetahui pengarai Pak Totok sebenarnya. Mereka masih terpana dengan ketampanan Pak Totok. Akan tetapi, anehnya kini beliau sudah tidak seperti yang ku kenal pertama bertemu. Beliau terlihat ramah dan sabar. Salah satu teman sekelasku yang begitu tergila–gila dengan beliau adalah Rani. Rani pasti mengetahui segala sesuatu tentang Pak Totok. Aku juga pernah mengetahui Rani memasuki mata kuliah beliau meskipun itu bukan jadwalnya, tetapi ya sudahlah aku tidak perlu mencampuri kehidupannya Rani terlalu dalam.

  Akhir–akhir ini aku mulai jarang melihat mas Dito di kampus. Dia juga tidak pernah mengajak aku dan Nia belajar bersama sudah dua minggu ini. Kami pun khawatir dengan keadaannya. Kami mencoba menghubungi ponselnya pun tidak aktif. Beberapa hari sebelum mas Dito menghilang, aku mendapat kabar dari kawan–kawan kampus kalau mas Dito sempat beradu mulut hebat dengan Pak Totok. Tidak ada yang tahu pasti kejadian itu, karena mereka hanya melihatnya dari kejauhan. Aku mulai bergumam dalam diriku sendiri, “Apakah itu karena masalah tugas akhir mas Dito? Kan mas Dito sekarang sudah semester 8 dan yang aku ketahui Pak Totok itu dosen pembimbingnya.” Akhirnya pada hari Minggu aku dan Nia untuk pertama kalinya mencoba berkunjung ke rumahnya mas Dito. Awalnya aku dan Nia tidak mengetahui rumah mas Dito. Akhirnya aku bertanya kepada teman seangkatannya.  Sesampai di sana ternyata rumah mas Dito sangat sederhana. Ketika kami mengetuk pagar rumahnya yang tidak terlalu tinggi, munculah seorang pria paruh baya yang mempersilahkan kami masuk, beliau adalah ayah Mas Dito, yang bernama Pak Doni. Mas Dito ternyata sedang sakit. Pak Doni sudah memeriksakannya, tetapi tak kunjung sembuh. Lalu Pak Doni mempersilahkan kami masuk ke kamar mas Dito. Tepat di atas tempat tidur mas Dito terpampang foto seorang perempuan cantik yang berukuran besar. “Itu siapa ya pak?”, tanyaku tiba–tiba. Ternyata beliau adalah ibunda mas Dito. Ibunya meninggal dunia saat mas Dito masih berusia 10 tahun akibat kanker otak. Mas Dito selama ini tidak pernah menceritakan kehidupannya yang ternyata menyedihkan. Aku melihat di sana mas Dito tergolek lemah dan berkata sangat lirih untuk menyambutku dan Nia, ketika kami memasuki kamarnya. Sebagai layaknya seorang sahabat, kami bertiga bercanda bersama meskipun tidak seheboh seperti biasanya.
 Setelah seminggu kemudian, mas Dito akhirnya pulih kembali. Kami bertiga sering bersama-sama lagi. Hanya saja saat ini mas Dito sering terburu-buru saat kami sedang bercanda menikmati waktu bersama. Aku dan Nia memaklumi karena mungkin memang mas Dito mulai sibuk dengan tugas akhirnya. Lalu pada suatu malam saat kami belajar bersama, aku sontak menghamburkan konsentrasi mereka saat aku membaca dengan keras headline news di internet, “Teka–Teki Hilangnya Warga Kota Angola Ditemukan dalam Kondisi Mengenaskan”. Tercatat terdapat 50 laporan kehilangan warga dalam 6 bulan terakhir ini dan 20 di antaranya telah ditemukan dalam keadaan termutilasi dan semua korban tidak ditemukan kepalanya. Penemuan jasad para korban pertama kali diketahui oleh seorang sopir truk yang beristirahat di kawasan lembah Langara. Langara merupakan daerah perhutanan yang menghubungkan kota Angola dan kota Toreo. Di Langara tidak ada pemukiman warga satupun, jalannya berkelok-kelok, dan bertebing yang disertai aliran sungai kecil di bagian bawahnya. Meskipun Langara merupakan jalur alternatif untuk menuju pusat kota Toreo, tidak banyak warga yang berani melewati jalur tersebut karena sangat sepi dan tidak ada penerangan jalan. Teka–teki hilangnya warga Angola mulai terkuak meskipun belum diketahui motif dan pelakunya. Berita tersebut benar-benar membuat suasana semakin mencekam dan konsentrasi belajar kami mulai terganggu. Akhirnya tidak sampai pukul 21.00 kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Saat itu seperti biasa kami belajar kelompok di rumah Nia, jadi saat itu aku pulang bersama mas Dito menggunakan mobilku.  Saat di perjalanan tiba-tiba di sebuah diskotik yang terletak di pinggir jalan raya, aku melihat pak Totok sedang merangkul wanita. Aku mencoba meyakinkan pengelihatanku dengan menanyakan kepada mas Dito. Ternyata memang benar itu adalah Pak Totok, dosen kami. Bagaimana mungkin dosen yang kami kenal berwibawa ternyata suka bermain wanita di tempat seperti itu? Entahlah aku melupakannya dan melanjutkan perjalananku pulang sebelum semakin larut.Pada suatu hari ketika aku melihat berita di televisi, lagi–lagi berita yang disiarkan adalah berita kehilangan orang. Kali ini korbannya adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang bekerja sebagai kupu–kupu malam di Kota Angola. Lalu sesaat muncul foto wanita tersebut di layar televisi. Betapa terkejutnya aku. Wanita itu adalah wanita yang dirangkul oleh Pak Totok saat aku bertemu di sebuah diskotik pada malam sebelumnya.  Lalu tanpa berpikir panjang dengan segera aku meluncur ke Langara seorang diri. Entah keberanian apa yang membawaku sejauh ini. Aku tidak memberi tahu Nia maupun mas Dito tentang kenekatanku ini. Aku ingin menyelidiki lebih lanjut di Langara. Barangkali ada bukti–bukti yang terlewatkan oleh polisi. Setelah menempuh 2 jam perjalanan, aku memasuki kawasan lembah Langara. Tempat ditemukan beberapa jasad korban masih terdapat garis polisi. Aku berhenti di dekat jembatan pinggir jalan. Aku melihat keadaan sekitar benar-benar sunyi, hanya suara-suara serangga hutan. Tiba-tiba aku begitu terkejut saat ku melangkah mundur, berbunyi seperti boneka mainan anak kecil. Ternyata benar aku menginjak sesuatu. Itu adalah gantungan kunci patrick yang terbuat dari karet. Aku mengambil gantungan kunci tersebut. Di sisi belakang gantungan kunci tersebut terdapat bercak darah yang mengering. Sepertinya ini adalah milik salah satu korban itu. Lalu dengan segera kumasukkan gantungan kunci tersebut dalam kantong plastik dan bergegas pulang, karena entah mengapa bulu kudukku mulai merinding.  Pada esok harinya, di kelas aku melihat Rani sibuk membungkus kado. “Untuk siapa sih Ran? Serius amat”, tanyaku. “Ahh…siapa lagi? Pujaan hatiku hari ini berulang tahun”, jawab Rani. Tanpa perlu menanyakan lagi, aku pun sudah mengetahui kalau kado itu akan diberikan kepada Pak Totok. Sesaat setelah itu, pak Totok pun masuk ke dalam kelas dan tanpa malu Rani pun maju ke depan kelas untuk memberi kado itu. Sontak seluruh kelas menjadi gaduh menyoraki mereka. Semenjak saat itu, aku sering melihat mereka berdua pergi bersama ke mall. Rasa simpatikku ke Pak Totok memang sudah luntur sejak tahun pertama kena omelan beliau. Akan tetapi, bagaimanapun aku masih menghormatinya sebagai dosenku di kampus.  Pada suatu ketika aku secara tidak sengaja menabrak Pak Totok saat berjalan. Tumpukan kertas yang dibawa beliau jatuh berantakan. Lalu beliau menatapku tajam dan dengan segera aku membantu memungut merapikannya. Tiba-tiba mataku terpusat pada kantong celana pak Totok. Di dalam sakunya terdapat gantungan kunci Patrickyang terbuat dari karet, sama persis dengan yang aku temukan beberapa hari silam. Perasaan curigaku semakin mendalam kepada pak Totok. Secara spontan, aku menanyakan tentang gantungan kunci itu. Beliau menjawab ketus, “Memangnya ada apa, Dian? Tiba-tiba kok bertanya seperti itu?”, tanya pak Totok kepadaku dengan sorotan tajamnya yang khas. Aku hanya menggelengkan kepala dan berlari kecil menjauhi beliau.  Dugaanku kini semakin kuat, tetapi tidak cukup kuat jika aku laporkan kepada polisi. Aku terus memendam semua ini. Aku tidak menceritakan sedikitpun kepada Nia maupun mas Dito, karena aku takut jika hal tersebut justru mencelakakan mereka. Pada malam harinya aku meluncur menuju diskotik tempat aku bertemu Pak Totok sebelumnya. Sesuai dugaanku, aku menanti di dalam mobil melihat dari kejauhan pak Totok tampak terburu–buru sambil menggandeng tangan seorang wanita. Kali ini wanita tersebut sangatlah tidak asing bagiku. Ya aku yakin, itu Rani. Aku tidak salah lagi. Dengan berhati–hati aku pun mengikuti mobil pak Totok hingga sampailah menuju lembah Langara. Lalu Pak Totok bersama Rani turun dari mobil dan berjalan menuruni bukit melewati semak–semak belukar. Dengan penuh hati–hati aku pun mengikuti mereka. Lalu sampailah aku di tengah hutan dan terdapat sebuah rumah kecil yang tampak tua, lusuh, dan lapuk di sana. Mereka berdua memasuki rumah itu dan keyakinanku semakin kuat bahwa Pak Totok adalah pelakunya. Aku pun ketakutan dan berlari mundur karena aku ingin segera menghubungi polisi. Saat akan sampai di pinggir jalan, aku dikagetkan kehadiran Mas Dito yang berlumuran darah di tangannya. “Pak Totok mencoba membunuhku”, jelasnya singkat bahkan sebelum aku bertanya. Tanpa bercakap lebih panjang, kami pun masuk ke dalam mobil. “Dimana Nia?”, tanyaku penuh khawatir. Tanpa berkata–kata, mas Dito semakin kencang melajukan mobilku hingga menabrak pohon besar dan aku pun pingsan.  Saat aku terbangun, aku berada di ruang yang gelap dengan keadaan tubuhku terikat dan mulutku ditutup oleh lakban. Lalu muncul cahaya lilin mendekat dan tampak samar–samar aku melihat wajah mas Dito. Aku berteriak semampuku untuk meminta tolong padanya. Akan tetapi, ternyata dia justru mulai menggoreskan pisau operasi di kulit kepalaku dengan seperangkat alat operasi yang jaraknya tidak jauh dariku. Aku meronta kesakitan bukan main. Semakin dalam dan semakin lebar guratan pisau itu melukai kepalaku. Aku mulai tak tahan lagi menahan sakit dan kesadaranku pun menghilang lagi.Saat aku membuka mataku untuk kedua kalinya, ternyata aku kini berada di rumah sakit dengan perban yang cukup tebal di bagian kepalaku dan infus berisi darah menancap di tangan kiriku. Tiba–tiba, Pak Totok dan Rani pun memasuki ruangan dan mendekatiku. “Dian… Kami turut berduka cita. Maaf, kami telah mencoba menyelamatkannya, tetapi kami terlambat”, terang Rani singkat dan dia mulai menghapus air mata yang menetes di pipinya.  Lalu Pak Totok mulai bercerita bahwa dalang di balik teka–teki pembunuhan di Angola adalah mas Dito. Mas Dito sangat terpukul atas kematian ibunya akibat kanker otak, sehingga membuatnya terobsesi meneliti organ otak. Awalnya mas Dito melakukan risetnya menggunakan otak hewan, tetapi saat mas Dito juga divonis terkena kanker otak stadium lanjut, dia lebih mendalami dan mencari cara agar penyakitnya dapat terobati dengan menggunakan otak manusia yang sehat. Sejak saat itu satu per satu warga Angola yang menghilanng hingga ditemukan dalam keadaan termutilasi tanpa kepala pun mulai terjadi. Salah satu korbannya adalah kekasih Pak Totok. Saat penemuan beberapa potongan jasad korban periode lalu, Pak Totok mengikuti investigasi polisi di TKP. Beliau menemukan potongan tangan kekasihnya yang masih terpasang cincin tunangan mereka, jadi gantungan kunci patrick yang aku temukan sebelumnya merupakan gantungan kunci kekasih Pak Totok. Oleh karena itu, bentuknya sangat mirip. Akibat tragedi itu, Pak Totok sangat terpukul dan sering pergi ke diskotik bermain dengan para wanita malam di sana. Mengetahui hal tersebut, mas Dito memanfaatkan momen tersebut agar terkesan Pak Totok adalah pelakunya. Saat aku dan mas Dito bertemu pak Totok di sebuah diskotik sebelumnya, ternyata mas Dito telah mengincar wanita malam yang bersama beliau tersebut dan menghabisinya. Lalu saat Pak Totok beradu mulut hebat dengan mas Dito sebelumnya, hal tersebut disebabkan oleh pengajuan judul skripsi mas Dito yang tidak masuk akal. Diri situlah pak Totok mulai curiga. Saat mengenal Rani, Pak Totok yakin Rani adalah orang yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, mereka menyusun strategi untuk dapat membongkar kejahatan mas Dito. Saat malam Rani bersama Pak Totok bersama ke diskotik, sebenarnya mereka sudah mengetahui dan mengkhawatirkan Nia, karena pada hari itu mas Dito mengajak Nia berkencan tanpa sepengetahuanku. Ternyata mas Dito telah mengambil otak Nia dalam keadaan segar di rumah tua Lembah Langara. Pak Totok dan Rani segera meluncur menyelamatkan Nia dengan menghubungi polisi sebelumnya tanpa sepengetahuan mas Dito, tetapi sayangnya semua telah terlambat. Pada saat itu, perasaan curigaku pada Pak Totok telah mendominasi terlebih dahulu ketika mereka mulai memasuki rumah itu. Saat aku berlari ketakutan, ternyata mas Dito mengetahui keberadaanku. Oleh karena itu, mas Dito juga mencoba membunuhku di rumahnya karena khawatir kejahatannya akan terbongkar. Untungnya saat itu tim kepolisian datang tepat waktu untuk menyelamatkanku. Mereka akhirnya menembak mati mas Dito dan ayahnya, yang juga turut membantu kekejian anaknya. Setelah aku mengetahui itu semua, air mataku tak terbendung. Aku telah kehilangan sahabat sejatiku selama–lamanya dan selama ini aku telah mencurigai orang yang salah.
sumber : http://niychemisstry.blogspot.co.id/2015/05/cerpen-misteri-lembah-berdara.html

Jumat, 27 November 2015



Tukang Sepatu dan Akuntan Keuangan

Jean de La Fontaine


Dahulu kala, ada seorang tukang sepatu yang riang gembira dan senang menyanyi dari pagi sampai malam. Sungguh menyenangkan melihatnya bekerja, dan lebih menyenangkan lagi saat mendengarnya menyanyi. Sepertinya tukang sepatu ini adalah orang yang paling berbahagia di dunia.
Akuntan dan Tukang SepatuTukang sepatu yang periang ini memiliki tetangga yang mempunyai sifat yang berbalikan dengannya. Dia hampir tidak pernah menyanyi, bahkan tidak memiliki jam tidur yang cukup. Orang ini berprofesi sebagai seorang akuntan keuangan. Saat akuntan ini bekerja dan kurang tidur sepanjang malam, ia akan tertidur sampai kesiangan. Tukang sepatu yang sering bangun tepat waktu, akan membangunkannya dengan lagu yang menyenangkan. "Ha!" kata akuntan yang kaya raya ini, "Sayang sekali apabila kita memiliki harta tetapi tidak bisa membeli 'tidur' di pasar seperti kita membeli makanan dan minuman!" Lalu muncullah suatu gagasan di kepalanya. Ia lalu mengundang tukang sepatu untuk datang ke rumahnya, dan ia pun menanyakan sesuatu pertanyaan.
"Coba katakan, tuan, berapakah penghasilanmu dalam satu tahun?"
"Dalam satu tahun, lebih banyak daripada yang saya tahu. Saya tidak pernah mencatatnya. Selama saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saya, itu sudah cukup buat saya." Jawab sang Tukang Sepatu sambil tertawa.
"Benarkah?" kata sang Akuntan. "Berapa banyak yang bisa kamu dapatkan dalam sehari?"
"Oh, kadang lebih, kadang kurang. Kadang ada hari-hari yang ramai dan kadang ada hari-hari yang sepi."
Akuntan yang kaya ini pun tertawa, "Lihatlah ke sini, teman. Hari ini saya mengangkat tingkatanmu ke tingkat yang lebih tinggi! Di sini ada uang seratus pounds (mata uang Inggris). Jagalah baik-baik dan gunakanlah dengan hati-hati."
Saat Tukang Sepatu memegang kantung uang yang berat tersebut di tangannya, ia pun membayangkan bahwa butuh seratus tahun untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
Saat ia pulang ke rumahnya, ia mengubur dan menyembunyikan uang tersebut di ruang bawah tanahnya. Bisa dikatakan bahwa semenjak saat itu, ia juga menguburkan kegembiraannya karena ia tidak pernah lagi menyanyi. Semenjak ia menjadi kaya raya, nyanyiannya hilang, dan bukan saja nyanyiannya yang hilang, tetapi tidurnya pun menjadi berkurang. Ia pun sekarang menjadi cepat gelisah, curiga, dan sering terkejut. Setiap hari ia mengawasi ruang bawah tanahnya. Saat seekor kucing membuat keributan di malam hari, ia percaya bahwa kucing tersebut akan mencuri uangnya.
Akhirnya dalam keadaan hampir putus asa, sang Tukang Sepatu yang sekarang menjadi kusut, berlari ke rumah Akuntan sambil membawa kantong uang yang pernah di berikan kepadanya. "Oh, kembalikanlah kegembiraan dalam hidupku, laguku, tidurku, dan ambillah uangmu ini kembali."
Harta tidak selamanya membawa kebahagiaan.

sumber : http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Tukang-Sepatu-dan-Akuntan-Keuangan-106